Tempat Wisata di Sanur yang Wajib Dikunjungi Wisatawan

Share this article

Gazebo tepi pantai Sanur saat matahari terbit, dengan pengunjung duduk menikmati suasana laut yang tenang.

Banyak orang mulai mencari informasi soal Sanur setelah bingung menyusun itinerary Bali. Nama Ubud, Canggu, dan Uluwatu biasanya sudah ada di daftar, tapi Sanur sering baru muncul belakangan, entah karena direkomendasikan teman atau karena kebetulan hotelnya lebih murah di sini. Masalahnya, kalau langsung pesan penginapan tanpa tahu karakter kawasan ini, ada risiko kecewa. Sanur bukan Kuta yang ramai, bukan juga Canggu yang penuh kafe estetik dengan wifi kencang di setiap sudut.

Kekecewaan semacam itu sebenarnya bisa dihindari kalau sejak awal sudah tahu apa yang membuat Sanur berbeda, tempat mana saja yang benar benar layak dikunjungi, dan bagaimana cara menikmatinya tanpa buang buang waktu. Artikel ini akan mengurai semuanya, dari pantai pantai yang punya fungsi berbeda, cara berkeliling yang ternyata tidak sesederhana kelihatannya, sampai budget harian yang realistis. Setelah membaca sampai selesai, kamu akan tahu persis apakah Sanur cocok masuk rencana liburanmu, dan bagaimana cara menikmatinya dengan maksimal.

Sanur Sering Dibandingkan Dengan Ubud, Canggu, Dan Uluwatu, Padahal Karakternya Beda Total

Perbandingan ini muncul karena keempatnya sama sama dianggap destinasi utama saat liburan ke Bali, padahal fungsinya jauh berbeda. Ubud identik dengan sawah dan suasana pegunungan, Canggu dikenal lewat kafe dan kehidupan digital nomad, Uluwatu jadi favorit peselancar dan pemburu sunset di tebing, sementara Sanur berada di jalur yang lebih tenang sejak dulu. Sanur berada di pesisir timur Denpasar, hanya sekitar 20 sampai 30 menit dari Bandara Ngurah Rai, dan justru dikenal sebagai kawasan wisata pertama yang berkembang di Bali, jauh sebelum Kuta atau Nusa Dua ramai.

Karakter tenang ini bukan kebetulan. Ombak di pantai Sanur relatif kecil karena terhalang gugusan karang di lepas pantai, sehingga area ini dari dulu lebih cocok untuk berenang santai dibanding berselancar. Jalur pejalan kaki dan sepeda di sepanjang pantainya juga rata dan lebar, membuat Sanur jadi pilihan yang nyaman untuk keluarga dengan anak kecil, pasangan yang ingin liburan santai, atau wisatawan lanjut usia yang tidak ingin banyak berjalan naik turun bukit seperti di Uluwatu.

Kenapa Wisatawan Yang Sudah Beberapa Kali Ke Bali Justru Kembali Ke Sanur

Pola yang sering terlihat adalah wisatawan yang datang ke Bali untuk kedua atau ketiga kalinya justru mulai memilih Sanur sebagai basis, bukan lagi Kuta atau Legian. Alasannya biasanya sederhana, mereka sudah pernah merasakan keramaian dan sekarang mencari tempat yang memberi ruang untuk istirahat sambil tetap dekat dengan fasilitas lengkap seperti rumah sakit, mal, dan restoran internasional.

Fenomena ini juga terlihat dari banyaknya warga asing yang memilih menetap atau pensiun di Sanur dalam jangka panjang. Kawasan ini punya kombinasi yang jarang ditemukan di tempat lain di Bali, yaitu suasana pantai yang tenang tapi tetap didukung infrastruktur kota yang lengkap. Buat traveler yang baru sekali dua kali ke Bali dan masih ingin merasakan energi yang lebih ramai, Sanur mungkin terasa terlalu kalem di malam hari. Tapi buat yang mencari jeda dari jadwal liburan yang padat, karakter ini justru jadi nilai tambah.

Sanur Kurang Cocok Untuk Yang Mencari Kehidupan Malam Ramai

Penting untuk jujur soal ini sejak awal. Kalau tujuan utama liburanmu adalah beach club dengan musik kencang, party sampai dini hari, atau deretan bar yang buka sampai pagi seperti di Kuta atau Canggu, Sanur bukan tempat yang tepat. Kehidupan malam di sini lebih condong ke pasar malam kuliner, restoran tepi pantai dengan live music akustik, dan beberapa bar olahraga yang tetap tutup lebih awal dibanding kawasan lain.

Bukan berarti Sanur sepi total. Ada beberapa bar dengan suasana santai yang menayangkan pertandingan olahraga, dan beberapa beach club skala kecil di area Mertasari. Hanya saja energinya jelas berbeda. Kalau kamu traveler solo yang mencari komunitas backpacker yang ramai berkumpul tiap malam, kemungkinan besar akan lebih puas menginap di Canggu atau Kuta, lalu sesekali mampir ke Sanur untuk mencari suasana yang lebih tenang di siang hari.

See also  Lempuyang Gate of Heaven Guide: Timing, Queue, Tips, and What to Expect

Berkeliling Sanur Ternyata Tidak Semudah Yang Dibayangkan

Bagian ini sering terlewat di banyak artikel wisata, padahal justru paling sering menimbulkan kebingungan di lapangan. Banyak wisatawan mengira transportasi di Sanur akan semudah di Canggu atau Seminyak, tinggal buka aplikasi ojek online dan langsung dapat kendaraan. Kenyataannya, komunitas lokal di Sanur cukup ketat mengatur wilayah transportasi mereka sendiri, dan ini berdampak langsung pada rencana harianmu.

Grab Dan Gojek Punya Batasan Di Wilayah Sanur

Grab dan Gojek tidak beroperasi bebas di dalam wilayah Sanur seperti di kawasan lain di Bali. Banyak sopir taksi lokal dan operator transportasi tradisional di sini punya kesepakatan khusus dengan hotel, restoran, dan tempat wisata, sehingga layanan ojek online sering hanya bisa menjemput penumpang dari luar area Sanur atau harus drop off di titik tertentu saja. Kalau kamu memesan Gojek dari dalam Sanur menuju tempat lain, ada kemungkinan pesanan sulit ditemukan driver, atau driver membatalkan begitu tahu titik jemputnya di dalam kawasan ini.

Kondisi ini membuat banyak wisatawan akhirnya bergantung pada taksi konvensional atau ojek pangkalan yang biasa mangkal di sekitar hotel. Masalahnya, tarif dari taksi konvensional di sini sering tidak menggunakan argo yang konsisten, jadi tawar menawar jadi hal yang wajar terjadi, terutama untuk jarak pendek antar tempat wisata.

Kenapa Banyak Traveler Akhirnya Memilih Sopir Pribadi Selama Di Sanur

Menghadapi situasi transportasi seperti ini, banyak wisatawan, terutama yang datang bersama keluarga atau membawa banyak barang, memilih menggunakan sopir pribadi selama berada di Bali. Alasannya masuk akal, satu mobil dengan sopir yang paham rute bisa mengantar dari hotel di Sanur ke Le Mayeur Museum di pagi hari, lanjut ke Icon Bali Mall untuk berteduh siang hari, lalu berakhir di Pasar Sindhu untuk makan malam, tanpa perlu memikirkan tawar menawar tarif di setiap perhentian.

Made From Bali, misalnya, menyediakan layanan sopir pribadi dengan mobil ber-AC yang bisa disewa harian dengan itinerary fleksibel, termasuk untuk keperluan berkeliling di dalam Sanur maupun perjalanan lanjutan ke area lain di Bali. Pendekatan ini cukup masuk akal buat traveler yang datang dengan waktu terbatas dan tidak ingin repot mengurus negosiasi tarif setiap kali berpindah tempat, sekaligus tetap bisa berhenti spontan kalau menemukan spot menarik di jalan.

Kalau kamu solo traveler dengan budget lebih ketat dan tidak keberatan berjalan kaki atau bersepeda, sebenarnya tetap bisa menikmati Sanur tanpa sopir pribadi, mengingat sebagian besar tempat wisata utama berada dalam jarak yang bisa ditempuh dengan sepeda sewaan seharga sekitar Rp25.000 sampai Rp50.000.

Empat Pantai Utama Di Sanur Tidak Semuanya Menawarkan Hal Yang Sama

Kesalahan yang sering dilakukan wisatawan baru adalah menganggap semua pantai di Sanur itu sama, padahal masing masing punya karakter dan waktu terbaik yang berbeda. Garis pantai Sanur membentang sekitar tujuh kilometer, terdiri dari beberapa segmen yang masing masing punya nama sendiri.

PantaiKarakter UtamaWaktu TerbaikPaling Cocok Untuk
Pantai KarangTenang, dekat area hotel dan restoranPagi hariJalan santai, foto, sarapan tepi pantai
Pantai SindhuDekat pasar malam dan spaSore hingga malamWisata kuliner, spa, belanja santai
Pantai Segara AyuAda dermaga kecil, cenderung lebih sepiDini hari untuk sunriseMomen tenang, fotografi sunrise
Pantai MertasariArea lapang, angin lebih kencangSore hari, terutama musim anginKitesurfing, layangan, sunset

Pantai Karang Dan Sindhu Untuk Suasana Pagi Yang Tenang

Pantai Karang dan Sindhu berada di bagian tengah garis pantai Sanur, dekat dengan mayoritas hotel dan restoran. Pagi hari di sini biasanya diisi wisatawan yang jalan santai atau bersepeda menyusuri jalur beton yang rapi sambil sesekali berhenti memotret perahu jukung nelayan yang berjajar di tepi pantai. Kalau cuaca cerah, siluet Gunung Agung kadang terlihat jelas dari kejauhan, menambah suasana pagi yang tenang khas Sanur.

Area ini juga jadi titik favorit untuk sarapan sambil menikmati pemandangan laut, karena cukup banyak kafe kecil yang buka sejak pagi. Karena ombaknya kecil dan area cukup dangkal di sebagian titik, orang tua bisa cukup santai membiarkan anak bermain air di pinggir pantai selama tetap diawasi.

Pantai Segara Ayu Untuk Berburu Sunrise Tanpa Keramaian

Kalau tujuan utamamu adalah foto sunrise yang bagus tanpa harus berebut spot dengan wisatawan lain, Pantai Segara Ayu biasanya jadi pilihan yang lebih tenang dibanding Pantai Karang. Ada beberapa dermaga kecil dari semen dan batu di sini yang sering dipakai wisatawan untuk duduk sambil menunggu matahari terbit, memberi sudut foto yang sedikit berbeda dari pantai pantai lain di Sanur.

Karena letaknya tidak setepat itu di pusat keramaian, Segara Ayu juga lebih nyaman untuk yang datang sendirian dan ingin menikmati momen pagi tanpa banyak gangguan penjual atau kerumunan turis lain.

See also  Wisata Pantai Kuta dan Legian, Kenali Bedanya Sebelum Berkunjung

Pantai Mertasari Untuk Sore Hari Dan Aktivitas Angin

Berbeda dari pantai pantai di bagian utara yang lebih identik dengan sunrise, Mertasari berada di ujung selatan dan justru punya keunggulan di sore hari. Areanya lebih lapang dengan tempat parkir yang luas, sering dipakai untuk piknik sore atau sekadar menonton layangan tradisional Bali yang diterbangkan warga sekitar.

Mertasari juga jadi satu satunya area di Sanur yang punya ombak cukup untuk olahraga air bertenaga angin seperti kitesurfing, karena posisinya yang lebih terbuka menghadap laut lepas. Kalau kamu datang di musim angin, sekitar Oktober sampai Maret, area ini biasanya lebih ramai dengan peselancar angin dibanding bagian Sanur lainnya.

Museum Le Mayeur Dan Pura Blanjong Menyimpan Cerita Yang Sering Terlewat Wisatawan

Banyak wisatawan datang ke Sanur hanya untuk pantai dan melewatkan sisi sejarahnya, padahal kawasan ini menyimpan jejak yang jauh lebih tua dari yang terlihat. Museum Le Mayeur, misalnya, dulunya adalah rumah sekaligus studio lukis Adrien Jean Le Mayeur, pelukis asal Belgia yang tinggal di Sanur dari tahun 1932 sampai 1958. Di dalamnya tersimpan puluhan lukisan bergaya impresionis, termasuk banyak karya yang menampilkan Ni Polok, istrinya sendiri yang juga penari legong. Harga tiket masuknya memang terasa agak mahal untuk ukuran museum kecil, sekitar Rp100.000 per orang, tapi bagi yang tertarik sejarah kolonial dan seni rupa Bali, tempat ini memberi gambaran bagaimana Sanur terlihat sebelum urbanisasi turis besar besaran terjadi.

Yang lebih jarang diketahui, Sanur juga menyimpan salah satu artefak tertulis tertua di Bali, yaitu Prasasti Blanjong di Pura Blanjong. Prasasti ini dipahat pada batu tahun 913 Masehi dan mencatat masa pemerintahan Raja Sri Kesari Warmadewa dari dinasti Warmadewa, salah satu bukti tertua keberadaan kerajaan Bali kuno. Di area yang sama juga terdapat arca Ganesha dan lingga yang masih terjaga bentuknya. Arsitektur pura ini sudah ditetapkan sebagai kawasan cagar budaya, dan meskipun bukan pura paling megah di Bali, suasananya jauh lebih sepi dibanding Tanah Lot atau Uluwatu, cocok untuk yang ingin menikmati situs bersejarah tanpa berebut spot foto.

Sanur Kini Punya Wajah Baru Lewat Kawasan Ekonomi Khusus Dan Icon Bali Mall

Ini bagian yang jarang dibahas di artikel wisata lain, padahal cukup penting untuk dipahami wisatawan yang terakhir kali ke Sanur beberapa tahun lalu. Sanur sedang mengalami transformasi lewat pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sanur seluas sekitar 41 hektare, yang mencakup Sanur International Hospital hasil kerja sama dengan Mayo Clinic dari Amerika Serikat, sudah beroperasi sejak awal 2024, taman etnomedis seluas 6,5 hektare dengan lebih dari 500 spesies tanaman, serta fasilitas MICE atau pusat pertemuan dan konvensi yang bisa menampung ribuan orang.

Perubahan ini membuat karakter Sanur perlahan bergeser dari sekadar kawasan retirement yang tenang menjadi kawasan yang juga menyasar wisata kesehatan dan bisnis, tanpa menghilangkan sisi santainya. Icon Bali Mall yang diresmikan Juni 2024 jadi contoh nyata pergeseran ini, mal ini punya konsep unik karena pintu belakangnya terhubung langsung ke pasir pantai, jadi kamu bisa berbelanja produk lokal maupun internasional di dalam ruangan ber-AC, lalu keluar lewat pintu belakang dan langsung menginjak pantai.

Buat wisatawan yang datang di siang hari saat cuaca sedang terik, kombinasi mal dan pantai yang berdekatan ini sebenarnya solusi praktis. Kamu bisa berteduh, makan siang, atau sekadar menikmati AC sejenak sebelum kembali beraktivitas di luar saat matahari mulai turun.

Snorkeling, Seawalking, Sampai Kitesurfing Punya Musimnya Sendiri Di Sanur

Laut Sanur yang tenang karena terlindung gugusan karang membuatnya jadi lokasi yang cukup ramah untuk berbagai olahraga air, tapi tidak semua aktivitas bisa dinikmati kapan saja sepanjang tahun. Memahami musim yang tepat akan menghindarkanmu dari kekecewaan datang jauh jauh untuk aktivitas yang ternyata sedang tidak optimal dilakukan.

  • Snorkeling dan seawalking bisa dinikmati sepanjang tahun karena mengandalkan area karang dangkal yang relatif tenang, dengan harga mulai sekitar Rp400.000 per orang untuk paket seawalking yang memungkinkan kamu berjalan di dasar laut tanpa perlu bisa berenang atau menyelam.
  • Diving tersedia sepanjang tahun juga, dan menariknya banyak operator selam ternama di Bali justru bermarkas di Sanur meski titik selam terbaik biasanya berada agak jauh dari sini, sehingga kapal dive akan membawamu ke lokasi lain seperti Nusa Penida atau Tulamben.
  • Kitesurfing dan windsurfing paling optimal sekitar Oktober sampai Maret, saat angin dari arah barat laut sedang kencang, dan biasanya terpusat di area Mertasari.
  • Berkano di air tenang bisa dilakukan kapan saja dengan biaya sewa dari warga lokal sekitar Rp25.000 per jam, cocok untuk yang ingin aktivitas ringan tanpa banyak persiapan.

Kalau kamu datang di luar musim angin dan berharap bisa kitesurfing, sebaiknya kelola ekspektasi sejak awal karena kondisi ombak dan angin mungkin kurang mendukung. Sebaliknya, kalau fokus utamamu snorkeling santai atau seawalking, kamu tidak perlu terlalu memikirkan musim karena airnya cenderung stabil sepanjang tahun.

See also  Pura Ulun Danu Bratan, Ikon Bedugul yang Tidak Selalu Terlihat Mengambang di Atas Danau

Liburan Bareng Anak Di Sanur Ternyata Bisa Lebih Dari Sekadar Main Pasir

Sanur memang dikenal ramah keluarga, tapi kebanyakan artikel hanya berhenti di rekomendasi bermain pasir dan berenang di pantai. Padahal ada beberapa tempat yang bisa jadi variasi kegiatan, terutama kalau anak sudah mulai bosan seharian di pantai atau cuaca sedang tidak mendukung untuk beraktivitas luar ruangan.

Big Garden Corner Untuk Foto Dan Ruang Terbuka

Big Garden Corner menawarkan konsep taman hijau luas yang dikelilingi sekitar 600 patung batu, termasuk miniatur Candi Borobudur setinggi lima meter, ditambah rumah pohon beratap jerami yang jadi favorit anak anak untuk dijelajahi. Suasananya cukup teduh karena banyak pepohonan, jadi lebih nyaman dikunjungi siang hari dibanding pantai yang panas menyengat.

Tempat ini cocok untuk keluarga besar yang butuh ruang terbuka untuk anak berlari lari tanpa risiko dekat air, sekaligus memberi banyak spot foto instagramable untuk orang dewasa yang menemani.

Taman Tersembunyi Muntig Siokan Yang Jarang Masuk Itinerary

Kalau kamu sudah bosan dengan tempat wisata di Sanur yang penuh turis, Taman Inspirasi Muntig Siokan bisa jadi kejutan menarik. Lokasinya di sebelah kawasan Pantai Mertasari, dikelilingi hutan bakau dan pohon cemara yang membuat suasananya jauh lebih sejuk dan tenang dibanding area pantai utama, sampai bisa dibilang hidden spot karena belum banyak wisatawan yang tahu.

Tempat ini menyediakan area bermain untuk anak anak, sekitar sepuluh gazebo yang bisa disewa untuk bersantai lebih privat, beberapa pilihan kuliner, dan yang cukup unik, penyewaan unta serta kuda untuk berkeliling taman. Harga tiket masuknya sangat terjangkau, hanya sekitar Rp12.000 per orang, buka setiap hari dari jam enam pagi sampai sembilan malam. Buat keluarga yang ingin pengalaman berbeda tanpa keramaian, Muntig Siokan layak masuk itinerary meskipun jarang disebut di artikel wisata kebanyakan.

Malam Hari Di Sanur Tidak Seramai Yang Dikira, Tapi Tetap Hidup

Setelah membahas Sanur yang lebih tenang di malam hari dibanding Kuta atau Canggu, bukan berarti kawasan ini mati begitu matahari terbenam. Titik yang paling hidup di malam hari adalah ujung Jalan Danau Tamblingan menuju Pasar Sindhu, yang berubah jadi pusat kuliner malam dengan suasana bersih dan tertib, sesuatu yang cukup dihargai wisatawan mancanegara dibanding pasar malam di kawasan lain yang kadang terasa lebih semrawut.

Di sini kamu bisa mencicipi jajanan khas seperti sate ayam, nasi campur, sampai martabak dengan harga yang jauh lebih murah dibanding restoran, biasanya mulai dari Rp20.000 sampai Rp50.000 per porsi. Kalau lebih suka suasana restoran yang lebih santai, Jalan Danau Tamblingan juga jadi pusat kuliner dan oleh oleh dengan banyak pilihan tempat makan halal, cocok untuk wisatawan Indonesia yang mencari kepastian soal kehalalan makanan.

Untuk pencinta gelato, antrean di depan Massimo hampir selalu jadi pemandangan setiap sore menjelang malam. Gelateria ini sudah jadi institusi di Sanur selama puluhan tahun, dan meski harus antre, banyak wisatawan menganggapnya sepadan karena rasa autentik ala Italia yang konsisten dari waktu ke waktu.

Berapa Budget Yang Realistis Untuk Satu Hari Penuh Di Sanur

Salah satu kekhawatiran yang jarang dijawab tuntas oleh artikel wisata lain adalah soal budget harian yang realistis. Berikut gambaran kasar biaya yang bisa kamu pakai sebagai acuan perencanaan, tentu bisa berubah tergantung gaya liburan dan musim kunjungan.

KebutuhanEstimasi Biaya
Sewa sepeda seharianRp25.000 sampai Rp50.000
Tiket masuk Muntig SiokanRp12.000 per orang
Tiket masuk Museum Le MayeurSekitar Rp100.000 per orang
Aktivitas seawalking atau snorkelingMulai Rp400.000 per orang
Spa tradisional satu jamRp215.000 sampai Rp500.000
Makan di Pasar Malam SindhuRp20.000 sampai Rp50.000 per porsi
Makan di restoran kasual tepi pantaiRp100.000 sampai Rp250.000 per porsi
Kelas workshop keramik di Kevala StudioMulai Rp300.000

Kalau kamu berencana menghabiskan satu hari penuh dengan kombinasi pantai, satu aktivitas air, makan tiga kali, dan sedikit belanja, angka Rp500.000 sampai Rp800.000 per orang sudah cukup realistis di luar biaya penginapan dan transportasi. Angka ini tentu bisa lebih hemat kalau kamu memilih makan di warung lokal dan aktivitas gratis seperti bersepeda atau jalan santai di pantai.

Waktu Yang Sebaiknya Dihindari Kalau Tidak Suka Keramaian

Meski dikenal tenang, Sanur juga punya periode tertentu yang jauh lebih ramai dari biasanya, dan ini sering luput dari perhatian wisatawan yang baru merencanakan perjalanan. Mengetahui periode ini membantu menghindari kekecewaan karena berharap suasana tenang tapi justru mendapati kawasan penuh sesak.

Periode ramai yang perlu diperhatikan antara lain akhir Desember sampai awal Januari, saat hampir semua hotel di Sanur penuh karena musim liburan Natal dan Tahun Baru. Selain itu, bulan Juli setiap tahunnya jadi waktu berlangsungnya Bali Kite Festival di area Padang Galak, dekat Sanur, festival layang layang raksasa tradisional yang diikuti tim dari berbagai desa di Denpasar. Acara ini menarik banyak penonton lokal maupun turis, jadi kalau kamu ingin menikmati Sanur dengan tenang, sebaiknya hindari datang tepat di periode festival berlangsung, kecuali memang sengaja ingin menyaksikannya.

Musim kemarau, sekitar pertengahan Juni sampai September, juga jadi periode paling ramai karena cuaca yang mendukung untuk aktivitas luar ruangan. Kalau kamu lebih mengutamakan suasana sepi dibanding cuaca sempurna, musim hujan antara November dan Maret sebenarnya bukan pilihan buruk. Hujan di Bali biasanya turun deras tapi singkat, umumnya di sore atau malam hari, jadi pagi hari masih cukup layak untuk beraktivitas di luar, dengan bonus harga penginapan yang biasanya lebih murah.

Sanur Juga Jadi Titik Awal Yang Praktis Untuk Menjelajah Nusa Penida Sampai Ubud

Setelah menjelajahi tempat tempat wisata di dalam Sanur sendiri, penting juga memahami bahwa kawasan ini sebenarnya berfungsi sebagai pintu keluar yang strategis menuju destinasi lain di sekitar Bali. Pelabuhan speedboat di Sanur jadi titik keberangkatan utama menuju Nusa Lembongan, yang bisa dicapai sekitar 30 sampai 40 menit, dan Nusa Penida yang memakan waktu sekitar 40 sampai 50 menit. Kedua pulau ini menawarkan air laut jernih, tebing dramatis seperti Devil’s Tear dan Dream Beach di Lembongan, cocok dijadikan day trip atau menginap semalam kalau kamu tidak ingin terburu buru.

Ke arah sebaliknya, Sanur juga jadi basis yang nyaman untuk day trip ke Ubud yang berjarak sekitar 45 menit sampai satu jam berkendara, tergantung kondisi lalu lintas. Berbeda dengan Ubud yang sama sekali tidak punya akses pantai, kombinasi menginap di Sanur sambil sesekali day trip ke Ubud untuk menikmati sawah dan suasana pegunungan sebenarnya memberi keseimbangan yang sulit didapat kalau kamu hanya memilih salah satu.

Untuk memudahkan kombinasi perjalanan semacam ini, banyak wisatawan memilih menggunakan jasa sopir pribadi yang bisa mengatur itinerary fleksibel dalam satu hari, dibanding harus memesan speedboat dan transportasi darat secara terpisah. Made From Bali, sebagai contoh, menyediakan paket tur harian ke Nusa Penida, Ubud, Kintamani, hingga area timur Bali dengan sopir berbahasa Inggris yang menjemput langsung dari hotel di Sanur, sehingga kamu tidak perlu memikirkan logistik transportasi setiap kali berpindah destinasi. Dengan basis di Sanur yang lokasinya cukup sentral, kamu sebenarnya punya banyak pilihan untuk memperluas cakupan liburan tanpa harus berpindah pindah hotel setiap beberapa hari.